Hei.
Mungkinkah kita kembali bertemu. Entah pada satu kanal lagu, yang tak sengaja kuputar, dan tak sengaja kau dengar. Atau pada satu kolom komentar, yang kau tuliskan dan tak sengaja kutemukan.
Mungkinkah kita kembali bertemu. Mungkin pada satu tujuan, yang sama-sama kita tuju. Atau pada persilangan jalan yang sama-sama kita lalui. Pada malam panjang yang sama-sama kita sesali. Atau pada satu bintang yang sama-sama kita saksikan Atau cukup pada satu waktu, ketika aku mengingatmu, dan di saat yang sama kau mengingatku.
-
Ada berapa musim di dunia ini, dan yang paling menyakitkan adalah musim mengenangmu. Musim yang datang tak kira-kira, dan lebih suka tiba-tiba. Yang memporak-porandakan segalanya, dengan daya hancur yang menjangkau seluruh semesta. Hingga nyaris habis segala yang kupunya, bahkan segala yang tersisa setelahnya. Dan yang lebih menyebalkan adalah gelombang susulannya. Belum usai kurapikan yang sebelumnya,…
-
Suatu waktu, kau adalah seperti sebuah seperti. Bersama satu atau beberapa kata setelahnya yang mengikuti. Sementara aku adalah kata lainnya yang selalu lupa dirujuk. Lalu terdampar bersama sekawanan kata asing yang sulit ditemukan. Tersisih bersama sejumlah bahasa dan istilah langka yang nyaris punah. Di waktu lainnya, kau adalah jeda di antara semua kata. Dan aku…
-
Aku suka dukamu. Dan aku juga suka citamu. Aku suka keduanya, bagaimanapun rupanya. Orang bilang jangan tenggelam terlalu dalam, dalam suka juga duka. Apakah kau juga suka dukaku? Karena kau suka citaku.
-
Subuh, aku dapat kabar, “Roqi mati. Tergilas motor.” Aku tertegun, mencoba tenang dan mengenang. Roqi tua yang malang, yang melambat, dan tak lagi garang. “Di mana bangkainya?”“Sudah dikubur Yosi di taman.” Aku bergegas ke taman, kupetik dan kutabur rumput ilalang di atas kuburnya.“Telah kau temukan takdirmu, Roqi.”“Tak perlu Kau kenakan lagi topengmu itu. Yang terlihat…
-
“Aku ingin mencintainya dengan sempurna, Tuan Sapardi.” “Tidak, Nak. Tidak ada yang sempurna. Kita semua tahu itu.” “Setidaknya gambarannya, Tuan.” “Mungkin. Kita hanya bisa hidup dalam gambaran kita sendiri. Terkurung dan melayang-layang di dalamnya. Namun, jangan pernah meminta.” “Aku hanya ingin mencintainya dengan sempurna. Dengan kata yang tak sempat berbuat apa-apa. Dan seketika semua menjelma…
-
Di Bantir. Ada angin gunung yang turun tiap dini. Yaitu, tiap kupandang wajahmu yang teduh dan mengembun pada daun-daun. Ingin kuusap, tapi biarlah. Semesta dan putarannya memintamu demikian. Dan aku tak ingin terlalu risau. Di Bantir. Nestapa datang dan pulang, dan orang-orang hanya bilang: jangan buang, telan! Konon, sekawanan nestapa berdiri menghadap bukit, lalu angin…
-
Lalu apa jadinya semestaku tanpamu, bintang kecil.Meski jauh tinggi dan penuh ketidakpastian, aku ingin terbang, ke tempat kau berada. Apa artinya keberadaanku tanpamu, bintang kecil.Meski duka amat banyak, menghiasi setiap kemungkinan, aku tetap menari, di tempat kau berada.
-
Reda, redalah, badai. Kami letih.Jalan sudah terjal, masih kau hantam juga.Usai, usailah, badai. Cukup sisakan gerimis.Arah telah sirna, masih kau terjang juga.
-
Catatan No. 1 Lalu kata-kata itu menjelma jadi anjing yang menyalak-nyalak di kepalaku. Memanggilmu, menghardikmu yang terus berlari dan menghilang. Sepanjang malam anjing itu berjingkat sana-sini. Menyalak tak mau diam. Aku kesal. Kuambil senapan, lalu kutembak kepalanya. Dor! Anjing itu jatuh. Jadi kaku dan dingin. Lalu, pada selembar kertas catatan, jasadnya kubaringkan. Kini, setiap kali…
-
Kau adalah rumah bagi lukaku. Tempat di mana kukirimkan duka demi duka. Lalu dengan tenang kau mengoyaknya, mencabiknya. Melebur dan melemparnya ke perapian. Di atas cerobong rumahmu kulihat kepulan serpih-serpih duka, terbebas dan merdeka di udara. Namun, kau juga adalah rumah bagi dukamu sendiri. Yang lahir setiap waktu. Yang menjalar bagai lumut, di dinding dan…