A Journey Inward

Rumah Duka

Kau adalah rumah bagi lukaku. Tempat di mana kukirimkan duka demi duka. Lalu dengan tenang kau mengoyaknya, mencabiknya. Melebur dan melemparnya ke perapian. Di atas cerobong rumahmu kulihat kepulan serpih-serpih duka, terbebas dan merdeka di udara.

Namun, kau juga adalah rumah bagi dukamu sendiri. Yang lahir setiap waktu. Yang menjalar bagai lumut, di dinding dan sudut.
Tapi kau tak ingin membebaskannya.

Kau adalah rumah bagi semestaku. Dan aku melayang-layang di ruang hampa tanpa kata, tanpa suara. Tapi kau tak pernah menangkapnya. Sementara kau, kau tanggalkan anganku pada dinding rumah yang semakin rapuh dan tua. Mungkin kau akan menua bersamanya. Dan aku antah selamanya

Konon duka bukanlah derita, bagi yang membiasakannya. Dinding penuh luka juga indah bagi yang menghayatinya. Maka aku akan mencobanya

Kau adalah rumah bagi dukamu sendiri. Dan aku akan mulai berhenti mendaur ulang dukaku.

Leave a comment

Rumah Duka