A Journey Inward

169

“Aku ingin mencintainya dengan sempurna, Tuan Sapardi.”

“Tidak, Nak.  Tidak ada yang sempurna. Kita semua tahu itu.”

“Setidaknya gambarannya, Tuan.”

“Mungkin. Kita hanya bisa hidup dalam gambaran kita sendiri. Terkurung dan melayang-layang di dalamnya. Namun, jangan pernah meminta.”

“Aku hanya ingin mencintainya dengan sempurna. Dengan kata yang tak sempat berbuat apa-apa. Dan seketika semua menjelma pada ruang dan waktu yang sempurna.”

“Hahaha. Kita semua terluka. Kita semua membuat luka. Tidak sesempurna itu.”

“Tuan. Kupikir, kita akan terbebas. Ternyata tidak. Kita hanya terapung sesaat, sebelum kembali tenggelam. Semakin dalam.”

“Cukup, Nak. Kau pikir, Kau siapa?”

“Ya. Bukankah hanya binatang jalang, dari kumpulannya yang terbuang. Bukan begitu, Tuan Chairil?”

“Begitu. Tak perlu sedu sedan itu. Luka adalah luka. Bawa lari. Hingga hilang pedih peri.”

“Maaf, Tuan-tuan. Aku hanya ingin mencintainya dengan sempurna. Seperti angin, yang mengalir ke mana pun semesta menghendaki. Seperti air, yang menguap dalam doa dan mencair dalam hujan. Terbebas dari segala batas. Terbebas dari segala kehancuran.”

“Begini, Nak. Kau bisa mencintainya dengan sempurna, dalam setiap ketidak-sempurnaan. Dalam setiap doa dan hujan. Dalam setiap ketidakmungkinan. Dalam segala kebebasan atas sebab akibat. Dalam segala kebebasan atas syarat dan ketentuan. Lebih baik begitu, bagimu.”

“Anda benar, Tuan. Aku ingin mencintainya dengan sederhana.”

*Selamat jalan, Eyang, Tuan Sapardi, Tuan Chairil Anwar, dan Burung Merak. Semoga tenang. Sampai jumpa.

Leave a comment