A Journey Inward

Matinya Roqi

Subuh, aku dapat kabar, “Roqi mati. Tergilas motor.” Aku tertegun, mencoba tenang dan mengenang. Roqi tua yang malang, yang melambat, dan tak lagi  garang.

“Di mana bangkainya?”
“Sudah dikubur Yosi di taman.”

Aku bergegas ke taman, kupetik dan kutabur rumput ilalang di atas kuburnya.
“Telah kau temukan takdirmu, Roqi.”
“Tak perlu Kau kenakan lagi topengmu itu. Yang terlihat garang, tenang, dan menjengkelkan.”
“Tak perlu lagi Kau payah-payah bertahan. Hujan demi hujan, panas dan kering kerontang.”
“Kau kini tenang.”

Memang, sudah beberapa minggu Roqi jarang terlihat. Roqi, seolah menyembunyikan ketakutannya, di setiap kegarangannya. Tua tak bisa dilawan. Roqi tua yang malang, yang tertatih dan terbatuk di sepanjang selokan. Roqi tua yangnacapkali menjadi olokan. Menyedihkan memang. Bagaimana pun, Roqi adalah temanku. Teman anakku. Meskipun kami tak pernah dekat, bahkan bercakap.

Matinya Roqi membuatku ingat. Bahwa tak akan ada yang diingat. Bahwa tak akan ada yang mengingat. Semua akan tergilas, terhapus, dan terkubur oleh waktu. Begitulah. Kita datang, kita pulang. Ada dan tidak ada kesan, selalu menjadi pesan.

Leave a comment

Matinya Roqi