A Journey Inward

168

Di Bantir. Ada angin gunung yang turun tiap dini. Yaitu, tiap kupandang wajahmu yang teduh dan mengembun pada daun-daun. Ingin kuusap, tapi biarlah. Semesta dan putarannya memintamu demikian. Dan aku tak ingin terlalu risau.

Di Bantir. Nestapa datang dan pulang, dan orang-orang hanya bilang: jangan buang, telan! Konon, sekawanan nestapa berdiri menghadap bukit, lalu angin lembah menatihnya melewati jalan setapak yang curam. Seperti tawanan perang, dan ritual menuju pesakitan.

Kamu dan aku. Entahlah. Kita bukan nestapa itu. Tapi kita tertatih, yang datang dan pulang, dan terus berulang. Seperti nebula yang beku, berjarak ribuan tahun cahaya. Kita hanya menatapnya.

Di Bantir. Mungkin kita saling menemukan. Entah itu kapan.

Leave a comment