A Journey Inward

Ada berapa musim di dunia ini, dan yang paling menyakitkan adalah musim mengenangmu. Musim yang datang tak kira-kira, dan lebih suka tiba-tiba. Yang memporak-porandakan segalanya, dengan daya hancur yang menjangkau seluruh semesta. Hingga nyaris habis segala yang kupunya, bahkan segala yang tersisa setelahnya.

Dan yang lebih menyebalkan adalah gelombang susulannya. Belum usai kurapikan yang sebelumnya, belum tegak yang runtuh, belum utuh yang retak. Tiba-tiba hujan dan badai saja, ombak berarak di langit, batu dan pasir beterbangan di udara. Melumatkan setiap persembunyian yang kurekayasa. Memaksaku bergerilya di antara puing-puingku sendiri. Kalau sudah begitu, aku bisa apa?

Karena itulah aku mencoba mempelajarinya; ritme, pola, juga bentuknya. Kutanya klimatolog, seismolog, hingga pawang hujan dan badai, tapi percuma. Tak bisa diramal, ditunda, apalagi dialihkan, kata mereka.

Maka kucoba mengenali tanda-tandanya. Tapi percuma juga. Tak pernah ada kawanan hewan yang berlarian. Tak ada air laut yang menyusut. Tak ada suara gemuruh dari kejauhan. Tiba-tiba aku terperangkap saja di dalamnya. Hingga remuk rumahku, hidungku, tulang-tulangku.

Barangkali karena itu pula kubawa payung ke mana-mana. Kotak obat yang kau buat. Jaket dan sepatu. Aku berlatih berlari, selalu sarapan pagi, berhenti merokok. Tapi semua itu tak banyak membantu.

Kusiapkan sapu, kain pel, vacuum cleaner, juga kotak sampah. Tapi akhirnya semua itu tak perlu. Sebab badai dan seluruh remahnya itu tak pernah bisa kujangkau. Lebih dalam dari Palung Mariana. Lebih jauh dari Earendel. Lebih jauh dan lebih dalam dari semua itu: di dalam sini.

Untuk musim yang paling menyakitkan ini, bisakah kita menjadwalkannya?

Leave a comment