A Journey Inward

Dan Seterusnya

Suatu waktu, kau adalah seperti sebuah seperti. Bersama satu atau beberapa kata setelahnya yang mengikuti. Sementara aku adalah kata lainnya yang selalu lupa dirujuk. Lalu terdampar bersama sekawanan kata asing yang sulit ditemukan. Tersisih bersama sejumlah bahasa dan istilah langka yang nyaris punah.

Di waktu lainnya, kau adalah jeda di antara semua kata. Dan aku hanyalah ruang kosong setelah titik terakhir dicantumkan. Aku tak punya kuasa untuk mengutarakan, menjabarkan, atau sekedar menyelipkan. Aku lelah, Puan.

Dalam konteks lainnya, kau menjadi tanda seru yang selalu ditunggu-tunggu dan dirindu. Sementara aku? Kau tahu, aku terus diseru bersama sekumpulan kecoak, keparat, anjing, bahkan babi. Di setiap rubrik yang telah tercetak, aku hanya bisa mendirikan tanda tanya di baris-baris yang tak pernah digubris.

Di sepanjang waktu, kau adalah kalimat yang ditulis secara cermat dan terhormat. Kau adalah kalimat atau klausa manis yang selalu muncul di headline surat kabar, tajuk rencana, serta pesan-pesan cinta dan persahabatan. Sementara aku?  Aku hanyalah hal-hal lain dan seterusnya. Yang tak berguna dan bermakna.

Kutelusuri seluruh literatur, manuskrip tua, hingga kata-kata yang dengan deras mengalir setiap waktu. Di koran, media sosial, hingga situs sandi negara. Sepanjang waktu, aku berlari dan terus diburu. Disudutkan. Bersama kenyataan yang selalu disembunyikan. Bersama kepahitan yang tak pernah ditayangkan.

Aku lelah, tapi tak lagi punya rumah. Aku kembali berlari. Begitulah, dan seterusnya.

Leave a comment

Dan Seterusnya