Hei.
Mungkinkah kita kembali bertemu. Entah pada satu kanal lagu, yang tak sengaja kuputar, dan tak sengaja kau dengar. Atau pada satu kolom komentar, yang kau tuliskan dan tak sengaja kutemukan.
Mungkinkah kita kembali bertemu. Mungkin pada satu tujuan, yang sama-sama kita tuju. Atau pada persilangan jalan yang sama-sama kita lalui. Pada malam panjang yang sama-sama kita sesali. Atau pada satu bintang yang sama-sama kita saksikan Atau cukup pada satu waktu, ketika aku mengingatmu, dan di saat yang sama kau mengingatku.
-
Apakah kau masih sehangat sore, yang jatuh tanpa hujan dan luka?Berdiri di beranda, dan menyambutnya dengan tawa terbuka.Kemudian aku merasa cukup, sekian, dan terima kasih.
-
Hujan. Dan kita kembali tertahan.
-
Bahkan, kita tidak pernah tahu. Sampai suatu waktu kita berjalan. Bahkan, kita tidak pernah tahu. Itu kapan.
-
Kamu tahu, aku cinta Kamu. Dan aku terima semua. Tak peduli Kamu hancur-remukkan aku. Tak peduli Kamu lebur-lesapkan aku. Karena aku tahu, bahwa Kamu tahu aku mampu.
-
Ada kehidupan lain di kotak-kotak itu. Sering aku dengar gemuruh riuh, desis dan bunyi sunyi. Aku sendiri hanya duduk di tepi. Sesekali berjalan mencermati. Tapi tak peduli. Apa ya. Jalan. Jalanan. Aku benci ini! Bicara ana ini. Aku muak! Bisakah Kau dengar? Aku lelah. Aku ingin masuk ke dalam salah satu kotak yang paling sunyi.…
-
Suatu hari yang tidak menyenangkan, anakku menghampiri dan menatap mataku. Dengan lirih ia berkata, “Bapak, kita ini menyedihkan ya.”Aku tersentak oleh kata-kata itu.Kupeluk makhluk mungil yang sudah pandai bicara dan menerka itu. “Kenapa, Nak?”“Kita ini kaya tragedi, ya Pak!”Kudekap semakin erat anakku. Hanyut aku semakin dalam. Aku dan anakku punya hobi yang sama, menonton film-film…
-
Kita begitukah?Terhempas pada antah. Tersisih dari tuah.Apa itu entah. Kita bagaimanakah?Terjebak dalam gelebah. Terperangkap tanpa celah.Di manakah arah?