A Journey Inward

Catatan untuk Anakku

Suatu hari yang tidak menyenangkan,  anakku menghampiri dan menatap mataku. Dengan lirih ia berkata, “Bapak, kita ini menyedihkan ya.”
Aku tersentak oleh kata-kata itu.
Kupeluk makhluk mungil yang sudah pandai bicara dan menerka itu.

“Kenapa, Nak?”
“Kita ini kaya tragedi, ya Pak!”
Kudekap semakin erat anakku. Hanyut aku semakin dalam.

Aku dan anakku punya hobi yang sama, menonton film-film Mr. Bean dan Charlie Chaplin. Anakku juga sering menonton cerita tenggelamnya Titanic, Britannic, hingga pecahnya perang dunia. Setiap ingin tidur, anakku memintaku untuk mendongeng perang Diponegoro, sejarah Indonesia, Perancis, Rusia, hingga tentang kutub selatan. Sebelum tidur juga, biasanya anakku mengajakku melihat globe dan peta dunia yang tertempel di dinding kamarnya.

Kulihat cahaya matahari menyelinap masuk dari jendela, lalu jatuh berpendar di lantai yang kotor. Lama aku merancang jawaban. Aku teringat suatu waktu aku pernah ceritakan kepadanya apa itu komedi dan apa itu tragedi.

“Nak, hidup yang kita jalani adalah berdasarkan pilihan-pilihan yang kita buat sendiri. Namun selalu ada satu atau beberapa tempat yang harus kita singgahi. Pilihan yang membuat kita sedih pun harus kita lewati. Kelak, ketika kita berhasil melewatinya, kita akan merasa senang. Tapi hidup akan terus begitu, tidak akan pernah selesai. Maka lebih baik kita terima saja semua itu. Hari ini tragedi, besok komedi, besoknya lagi tragedi, begitu seterusnya. Yang terpenting, kita selalu ingat jalan pulang. Kita ini pejalan, Nak. Sepayah apa pun kita harus bergerak. Beranjak.”

“Paham?”
“Iya, Pak. Tapi Kafka mau es krim!”

Kuajak anakku berjalan di sepanjang trotoar yang terbengkalai. Melihat mobil-mobil yang lalu lalang. Sesaat kami duduk di halte bus yang kosong dan menyedihkan. Anakku tertawa-tawa melihat jalanan. Kemudian diam, seolah menyimpan. Sementara aku ajak dia bercerita tentang aspal, lampu jalan, lampu lalu lintas, dan polisi lalu lintas.

“Lihat, Pak, orang itu kena tilang!”
“Kenapa ya Pak, orang itu ditilang?”
_ _ _

Dalam hati terdalam aku bergumam, anakku, ke mana pun kamu melangkah. Ingatlah, kamu tetaplah anak bapak. Mungkin kamu takkan ingat hari ini. Tapi bapak selalu. Beranjaklah nak. Tapi jangan terlalu cepat. Jangan terlalu cepat jadi seorang jantan. Jangan terlalu cepat bapak ditinggalkan. Jangan terlalu cepat menentukan pilihan. Jangan terlalu cepat, menentukan. Atau kamu akan menyesal.

Leave a comment

Catatan untuk Anakku