A Journey Inward

Hei.

Mungkinkah kita kembali bertemu. Entah pada satu kanal lagu, yang tak sengaja kuputar, dan tak sengaja kau dengar. Atau pada satu kolom komentar, yang kau tuliskan dan tak sengaja kutemukan.

Mungkinkah kita kembali bertemu. Mungkin pada satu tujuan, yang sama-sama kita tuju. Atau pada persilangan jalan yang sama-sama kita lalui. Pada malam panjang yang sama-sama kita sesali. Atau pada satu bintang yang sama-sama kita saksikan Atau cukup pada satu waktu, ketika aku mengingatmu, dan di saat yang sama kau mengingatku.

  • 139

    Bandung, 2 November 2014. Aku mengingat bahwa aku pernah datang ke sini untuk mencoba menemukanmu. Sketsa wajahmu itu. Kembali lagi ke sini, saat ini, apakah tlah sampai aku pada waktu untuk hanya mengenangmu?

    Selengkapnya…

  • 138

    Suatu ketika aku betul-betul merindukanmu, sesuatu yg berarti ada yang hilang dariku. Entah mengapa aku begitu ingin memelukmu, menggenggam apa yang kurasa milikku. Ah. Kembali kusketsa beberapa bentuk kemungkinan. Demikianlah, aku menjadi terlalu banyak bicara tentang cinta dan kemungkinan, bahkan ketika kamu sangka aku tidak memilikinya Kelak, jika ada waktu tersisa, sesempit senja di musim…

    Selengkapnya…

  • 137

    Kamu dan aku. Kita bukanlah makhluk-makhluk masa depan bukan? Maka mari kita kenang saja masa depan itu. Masa lalu adalah pemberhentian yang kita tuju. Hari-hari ini adalah dimana kita renungkan segala derita yang mungkin bakal kita capai. Sebab masa depan tidak akan dengan mudah terulang. Hari-hari ini juga merupakan kesepakatan di antara kita untuk menghapus…

    Selengkapnya…

  • XC

    Tidak jauh dari kepergianmu, sebuah truk Daimler tua dengan nomor polisi XC 8059 menghampiriku. Dua lelaki bersetelan ala cosa nostra menyeretku masuk ke dalam bak truk. Kulihat manusia-manusia berwajah absurd terduduk lesu dan lengas di sepanjang bangku panjang yang tertempel di kedua sisi bak, tetap bergeming pada kedatanganku, seakan sibuk mengunyah satu pertanyaan terakhir di…

    Selengkapnya…

  • 136

    Mungkin saja begitu. Dan aku akan menyibukkan diri dengan apa saja yang tertinggal di kamarku; potongan kayu jati belanda, pensil konte, atau perangko dan koin-koin tua. Seraya kuputar fm radio pada frekuensi sekenanya, mungkin saja terpancar suaramu, dan mungkin saja ada satu atau dua hal yang keliru. Walakin, tak perlu kita risau. Untuk waktu yang…

    Selengkapnya…

  • 135

    Pada malam seperti ini, kunyala sebatang cohiba, kuletakkan jarum turntable di atas vinil, kupandangi langit-langit kamar. Pukul dua. Jarum detik jam seperti begitu pening dan lelah, melengah. “Ah, manusia telah terlelap, tak mengapa aku sekedar sedikit berjalan melambat,” pikirnya. Dia tak menyadari aku masih terjaga dan bersembunyi di balik dinding kayu dimana dia terpaku. Aku…

    Selengkapnya…

  • Memo No. 2

    Hei. And again, back to my dry days. And it’s okey to just start talking to John. I can stop blaming myself. I use to hide away my longing. Too much rain in this term, but, I am aware it’s not a clement monsoon to ask too much. It’s too hard for me. You know, rain…

    Selengkapnya…

  • 134

    Kehilanganmu tidak berarti seperti lenyapnya unsur 1-1-s secara tiba-tiba. Tidak. Matahari tetap seperti bentuk dan hakikatnya. Dan aku tidak perlu menunggu sampai 4,6 milyar tahun untuk membayangkan adanya sebuah kehidupan. Bahkan aku tidak perlu menunggu sampai aku merasa ada untuk membayangkan itu. Kehilanganmu mungkin lebih menyakitkan daripada tidak pernah terciptanya sebatang rokok, sebatang coklat, secangkir…

    Selengkapnya…

  • 133

    You are a mathematical route, a whimsical restoration, a tropical tone, a historical morrow. And, you are just a lagrima.

    Selengkapnya…

  • Seperti…

    Kamu seperti sebuah kota yang sibuk. Orang-orang datang di pagi hari dan meninggalkanmu menjelang esok pagi. Roda-roda lalu lalang di sepanjang jalanmu. Dan aku harus menunggumu hingga jam sebelas atau dua belas malam, hanya untuk berjalan berdua bersamamu. Nyaris, kita hanya berjumpa di setiap permulaan sebuah hari. Kemudian kamu harus kembali menjadi dirimu sendiri. Sementara…

    Selengkapnya…