A Journey Inward

135

Pada malam seperti ini, kunyala sebatang cohiba, kuletakkan jarum turntable di atas vinil, kupandangi langit-langit kamar. Pukul dua. Jarum detik jam seperti begitu pening dan lelah, melengah. “Ah, manusia telah terlelap, tak mengapa aku sekedar sedikit berjalan melambat,” pikirnya. Dia tak menyadari aku masih terjaga dan bersembunyi di balik dinding kayu dimana dia terpaku. Aku menjadi memiliki lebih banyak waktu untuk mengingatmu atau menuliskanmu. Dua atau tiga kali, kuputar ulang Herbie Mann, Ray Conniff, juga Strauss.

Aku takut untuk mulai mengakhiri hariku ini yang sebenarnya tlah berakhir pukul nol tadi. Aku takut untuk kembali bertemu hal atau catatan buruk yang kerap kutemui menjelang bermulanya hari, pada akhir-akhir ini. Mungkin kamu tlah tertidur saat ini. Mungkin kamu tengah mempersiapkan hari yang baru. Dan aku tidak menghitung berapa selisih hari atau jam yang tlah terlewat di antara kamu dan aku. Mungkin kamu tlah meninggalkan hariku yang selalu terlambat bermula dan berakhir, entah kemaren atau hari ini atau jg belum. Dan aku juga tak sempat menghitung irisan (∩) antara harimu dan hariku, dimana terselip peluang untuk kita sekedar saling mengingat atau menuliskan, atau sekedar memandang pada langit yang sama atau mendengar lagu yang sama. Ah, aku ingin menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat harimu dan jangan lupa bahagia.

Leave a comment