A Journey Inward

Seperti…

Kamu seperti sebuah kota yang sibuk. Orang-orang datang di pagi hari dan meninggalkanmu menjelang esok pagi. Roda-roda lalu lalang di sepanjang jalanmu. Dan aku harus menunggumu hingga jam sebelas atau dua belas malam, hanya untuk berjalan berdua bersamamu. Nyaris, kita hanya berjumpa di setiap permulaan sebuah hari. Kemudian kamu harus kembali menjadi dirimu sendiri. Sementara aku harus menggelandang di setiap tempat yang tak pernah kau lihat; di bangku stasiun, di bawah truk sampah, di sisi jembatan, atau di dalam pipa konstruksi yang belum terpakai. Sesekali aku berjalan di boulevard-mu, sekedar makan coklat atau menatap orang-orang yang tertidur di pematang jalan, mungkin saja orang-orang yang sama sepertiku.

Aku jenuh. Aku merindukanmu. Aku ingin kembali seperti dulu, ketika kamu menjadi sebuah kata yang selalu kufavoritkan; kutuliskan; dan kusebut berulang-ulang.

Kamu seperti sebuah kota yang riuh. Selalu ada percakapan hampir di tiap sudut. Selalu ada sisa kotoran di keranjang sampah atau meja-meja kerja. Dan aku tetap setia menunggumu hingga sunyi, hanya untuk menatap dan mencium keningmu, atau membisikkan nama kecilmu. Nyaris, kita hanya dapat berpelukan hanya untuk tiga atau empat jam saja. Dan kamu harus kembali menjadi seperti yang tidak pernah kuharapkan. Sementara aku terus terlunta-lunta di setiap ruang kosong yang tak pernah kamu hiraukan; di perkampungan kumuh, sekolah-sekolah tua, atau tempat pemakaman. Berkali-kali aku datangi kantor pencatatan sipil untuk menanyakan sejak kapan nama kecilmu kamu tanggalkan, berkali-kali mereka bilang ‘Kalau Anda mencintainya, lebih baik Anda tinggalkan!’

Aku begitu sunyi. Aku membencimu. Bagaimana bisa kita begitu hangat pada dini yang dingin, tetapi beku pada hari yang terik.

Dan kamu seperti sebuah kota yang pongah. Orang-orang menjadi lebih banyak berbicara tentang dua hal: cinta dan uang. Sementara desainer-desainermu tidak pernah berhenti bekerja untuk merapikan susunan gigimu, menambal lubang-lubang kulitmu, atau merubah warna rambutmu. Dan aku terus berusaha mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, sekedar untuk membeli seikat bunga untukmu, membeli rokok dan susu, atau menyewa tempat pemakamanku kelak. Suatu kali aku menemui seorang statistisi untuk menghitungkan berapa peluangku untuk terus bertahan seperti ini, satu kali dia bilang ‘Panjang jalan di kota ini tidak cukup untuk menentukan nasib baik Anda. Sedangkan cinta Anda adalah terlalu banyak meminta, Tuan.’

Aku lelah. Aku ingin mengajakmu untuk sekedar menepi, menjenguk desa kecil di balik bukitmu. Aku ingin kamu mengingat satu saja dari semua hal yang pernah kuminta. Sekali saja.

Kamu seperti sebuah kota yang kejam. Di dalam dirimu mengalir kali-kali kotor dan beracun. Dan kamu menjadi seorang guru yang tidak pernah mengajarkan hakikat dari sebuah sesuatu. Orang-orang sepertiku menjadi begitu gamang untuk mengenalimu. Suatu waktu aku berpikir untuk membuat segala hal menjadi lebih sederhana.
———————————————————

Sore ini, aku berjalan kaki mencari setangkai teluki. Mungkin kamu lupa kembang kesukaanmu, atau tlah menggantinya. Mungkin kamu lupa hari ulang tahunmu, atau tlah merubahnya. Aku terus berjalan sepanjang jalan teater, di seberang gerbang jalan bebas hambatan. Sayup-sayup kudengar sebuah lagu Chet Baker dimainkan pada sebuah kedai kopi, ‘time after time’.
Aku tak menemukan kembangmu. Langit menjadi lembab. Aku hanya menatap kereta-kereta yang lalu lalang di sepanjang jalan arteri. Jam lima, jalananmu sangat-sangat kacau. Kamu tersengal menghirup udaramu sendiri. Aku iba padamu. Tak sengaja kulihat setangkai teluki di sebuah median jalan protokolmu. Aku menyelinap di antara roda-roda yang berjalan pelan. Kupungut kembangmu. Sangat kusam. Hujan tiba-tiba tumpah, jalanan menjadi basah, tetapi roda-roda berputar menjadi sangat gapah. Aku terjebak di antara dua arus jalan. Aku hanya terduduk, menggenggam teluki, dan menyalakan sebatang lisong. Mungkin kamu menjadi risih. Aku membayangkan sebuah harvest moon. Mungkin kamu dengar. Dari kejauhan kulihat kamu, berjalan ke arahku, tapi, dengan wajah yang sama sekali tidak kukenal. Entah kenapa, aku menjadi sangat takut dan membencimu. Aku perlahan berjalan mundur. Bahkan ketika detik jam terasa dua kali lebih cepat. Kamu menjadi setengah berlari, seketika aku berlari. Kamu meruah, tapi aku sudah terlanjur enyah.
Detik jamku perlahan berhenti, tetapi detik jam kotamu menjadi berkali-kali lebih cepat. Aku sangat kwalahan. Kamu menjadi sangat dekat. Aku terus berlari, sampai suatu kali kusadari tidak ada lagi pijakan dan kesempatan untuk berlari.
Sepersekian detik kemudian kusadari aku tlah terkapar, tepat di sebuah perempatan jalanmu. Tepat di bawah moncong sebuah bus esto tua. Tepat dalam pangkuanmu. Jalananmu kembali kacau. Hujan menjadi selesai. Lampu-lampu jalan mulai berpendar. Dan wajahmu kembali menjadi seperti yang kukenal. Kamu tersenyum. Kamu kutik setangkai teluki yang tadi kupetik. Seketika kamu menjadi begitu tenang, aku sangat senang. Seketika kamu menjadi begitu cantik, dan aku merasa jauh lebih baik. Seketika aku merasa belum ingin pulang, tetapi peluangku tlah terlanjur tak berbilang. Seketika aku tidak banyak meminta, tetapi aku tlah terlanjur menjadi perlina.
———————————————————

Lalu, segala hal kembali menjadi rumit. Kamu geletakkan aku di sebuah pematang jalan. Dan kamu pergi begitu saja. Dan kamu tetaplah seperti sebuah kota yang kelu. Bahkan setelah kepergianku.

Leave a comment

Seperti…