A Journey Inward

XC

Tidak jauh dari kepergianmu, sebuah truk Daimler tua dengan nomor polisi XC 8059 menghampiriku. Dua lelaki bersetelan ala cosa nostra menyeretku masuk ke dalam bak truk. Kulihat manusia-manusia berwajah absurd terduduk lesu dan lengas di sepanjang bangku panjang yang tertempel di kedua sisi bak, tetap bergeming pada kedatanganku, seakan sibuk mengunyah satu pertanyaan terakhir di dalam mulut mereka. Pendudukmu seringkali menyebut sekawanan ini sebagai makhluk sial; layaknya manusia yang begitu meluhurkan dan mempelajari sejarah, tetapi juga mencurigainya. Untuk dapat bertahan hidup, atau sekedar merasa hidup, manusia seperti ini lebih memilih untuk membangun sebuah kamar di dalam kepalanya sendiri dengan segenap perkakas yang dibutuhkan, seperti: gitar, gramophone, kotak sampah, buku, rapido, atau tatah. Aku tak tahu secara pasti apa yg perlu mereka kerjakan atau karyakan. Namun, ketika segala hal terasa kian gabuk, atau sesuatu hal terasa boyak, mereka dapat mulai mengakhirinya di sini; sebuah brewery truck tua yang tlah berubah fungsi menjadi truk penjaga keseimbangan; ya seperti halnya aku. Kamu memanglah sebuah kota yang sempurna, tidak sedikitpun ingin terusik oleh pledoi dari segala paradoks yang telah hidup selama lebih dari lima ribu tahun. Dan orang sepertiku memang tidak layak hidup di dalammu, walaupun sekedar duduk di tepi jalan culdesac-mu.

Malam masih sangat muda ketika truk tua ini secara perlahan bergerak mendekati pos perbatasan. Truk terhenti, seorang serdadu menyelidik, lalu turun dengan menyeru “Fourteen!”, sementara seorang serdadu yang duduk di dalam pos langsung menuliskan sesuatu. Truk kembali berjalan. Kupandangi dinding kotamu yang tampak begitu kokoh dan tebal, seperti wajah tembok Berlin yang kerap kulihat di kliping-kliping koran tua bapak. Di atas menara-menara dapat kulihat dua atau tiga serdadu mendekap rifles atau musket, seakan selalu sigap menjunjung tinggi supremasimu. Ya, desainermu mungkin adalah seorang reaksioner pragmatis, minimalis, juga utilitarianis.

Semakin jauh kutinggalkan pintu pos perbatasan. Sulit untuk sekedar dibayangkan, setidaknya untuk saat-saat ini. Seakan hanya tergambar sebuah tubuh bernama sepi tengah duduk di bangku stasiun kereta tepat pukul dua pagi, sementara dia tidak menyadari bahwa dunia kita telah menyebutnya sebagai pasai dan semacamnya, dan mereka sama sekali tidak menenangkan. Sungguh tidak ada hal lain lagi yg dapat kumengerti selain pengertianku bahwa aku akan meninggalkanmu saat ini, ya, dengan segala kehinaan dan kepengecutan ini. Tetapi perlu kamu catat, kecut ini bukanlah lawan yang sepadan dengan kata yang kamu sebut sebagai keberanian. Albert Camus akan mengatakan ini sebagai reaksi dari ketidakpastian. Dan kamu sadar bahwa ketidakpastian adalah sebuah jeda bagi Tuhan untuk menuliskan kelanjutan naskah ini.

Aku hanya duduk hening di pojok bangku belakang. Saat ini, aku hanya ingin menikmati kesedihanku karena meninggalkanmu, sketsa-sketsaku tentangmu, panggilan-panggilanmu, atau kejenuhanmu terhadapku. Udara dan orang-orang di sekitarku hanya hening, sementara truk tua ini terus berjalan tertatih memasuki jalanan bukit yang gelap. Sepasang cosa nostra yang duduk di atas keranjang bir kosong di hadapanku terus bercakap dengan bahasa yang sama sekali tidak kumengerti, mungkin chemehuevi. Sesekali seorang cosa yang berjarak lebih dekat terhadapku menoleh sembari membenarkan letak cerutu di bibirnya. Dari parasnya, lelaki itu lebih terlihat seperti seorang hippie dibanding seorang Our Thing. Daimler terus bergerak meninggalkan kotamu, mendaki bukit yang senantiasa melindungimu dan mengingatkanmu bahwa kamu adalah sebuah kehidupan bagi para petualangmu. Dan kamu dengar, angin gunung mulai berenang ke kotamu seraya berbisik “Teruslah hidup, pakar tata ruang kota belum selesai merancang jalan-jalanmu.”

Dari dalam bak truk yang koyak karena biji-biji shrapnel -kuduga-, aku dapat melihatmu dengan sudut yang lebih baik. Dan di dalam jarak yang kian amat, izinkan aku untuk mengenyam ini, sebab aku tak yakin apakah esok pagi aku masih mampu mengingat rupamu sebaik saat ini. Sementara rindu akan kian terdesak di seluruh rongga tubuhku.

Ah, aku kembali teringat mengapa saat kecil dulu aku begitu mengagumimu, menggambarmu di kulit-kulit batu, memandang langit-langit malam yang memantulkan wajahmu, dan berjanji untuk menemuimu ketika tiba saatnya. Ah, rasanya lebih mudah untuk memilikimu dengan jarak seperti ini, ya, lebih mudah mencintaimu dengan cara yang terus seperti ini. Seharusnya aku tidak pernah menemuimu dan mencari-carimu. Seharusnya cukup kuyakini saja bahwa kamu memang diciptakan, tetapi tidak untuk hidupku. Kamu tahu, menemuimu membuatku meyakini bahwa relativitas dapat bekerja dengan cukup baik. Bercakap denganmu telah membuat seluruh hidupku menjadi lebih hidup, aku telah berjalan sepersekian waktu lebih cepat, sedangkan dunia di luarku tetap pada kadarnya. Jika kamu lihat sekarang, aku tlah jauh lebih menua. Terkadang aku tidak memahami apa bedanya antara menemuimu kemudian mati dan cukup meyakinimu tetapi harus hidup pada cara dunia bekerja.

Tiba-tiba roda truk menghantam sebuah lubang yang cukup besar, isi truk terlempar dan saling bertabrakan. Keranjang bir kosong di depanku membentur lututku. “Dummkopf!” seru cosa berparas hippie yang seketika terlempar dari tempat duduknya. “Are you okay, Anid?”. Aku hanya mengangguk. Daimler kembali berjalan lembut.

Lelaki hippie mendekatiku dan menyodorkan tiga potong Cohiba Behika  seraya berkata “Love is the flower you’ve got to let grow. But the town always says she has no more space for yours. Yours is too big. And it will disrupt the chime”. Rasanya aku pernah mendengar umpatan semacam itu. Kupungut sepotong cohiba, dan kunyalakan. “My name is Xyn,” dia memperkenalkan diri. “I’m not going to change the way you look or the way you feel to conform to anyting. I’ve always been a freak. So I’ve been a freak all my life and I have to live with that, you know. I’m one of those people. You should simplify something unappeased”, Xyn memungut cohiba dan menyalakannya. Bagaimanapun, aku sama sekali tidak peduli dengan simpatinya, atau ucapannya. Aku lebih tertarik memandangi wajahmu yang kian menyusut. Xyn kembali duduk bersama temannya..

Pukul delapan. Daimler telah mendaki separuh bukit. Sinar wajahmu kian meredup hingga tampak seperti sebuah galaksi yang tersembunyi di bawah cekungan. Udara semakin lembab. Xyn meraih dan menyuarakan sebuah radio kayu tua yang tergantung di atap bak. BBC London terpancar lewat stasiun fm di kotamu. Suaranya agak kacau, mungkin karena tubuhnya yang sudah terlalu rapuh, atau karena jangkauan frekuensimu yang kian terbatas. Lalu samar-samar kudengar Standing In The Doorway  Bob Dylan versi Chris Bergson Band. Aku mencoba setenang mungkin. Dan, ah, sangat sentimentil.

Lagumu berakhir. Namun aku ingin mendengarnya sekali lagi.

Sesaat, potongan-potongan suaramu berhamburan di langit, lalu radio tua itu menangkap dan menyalinnya dengan warna, frekuensi, dan amplitudo yang nyaris sama. Entah mengapa aku merasa kamu begitu dekat. Dan selalu seperti itu. Seakan-akan aku selalu memiliki satu atau dua peluang lagi untuk menemuimu. Entahlah. Ingin rasanya mendekapmu atau melompat ke jurang Kylv di bawah sana. Dan dua-duanya kukira sama saja.

Terus kudengar suaramu yang lembut, juga alurnya yang tak kusut. Segala itu seperti meresap dengan gampangnya ke dalam seluruh bagian tubuhku, kemudian mengalir dan menyatu kembali ke dalam jantungku, mengacaukannya, merapihkanya, mengacaukannya lagi, dan seterusnya. Itu sudah cukup untuk membuatku sekedar bertahan di malam yang dingin dan gelap seperti ini.

“Now, you can describe the highest form of love. He is like this suffering. But he can’t just stop walking here. He has to keep running for his highest form, we name wisdom. Finally, she is a precise words, a silk road, and the only one form of chime. She ends when the time beating ends. But, we need to muse now, indeed, this would not be a consistent exegesis if I said the highest wisdom is like a death. I just … sssht you sssht sssht … a pragmatic mien sssht sssht”, suaramu terhenti, radio hanya berdesis habis, ya, untuk ke sekian kali jarak menyudahi. Aku bisa membayangkan sebuah pertanyaan terakhir yang dapat saja terlontar pada saat-saat seperti ini. Ingin rasanya kutemukan guillotine atau semacamnya, tetapi seketika kusadari itu tidak terlalu perlu. Aku hanya perlu ada, dan menunggu, meskipun sekedar menua dan tak berguna. Waktu akan menyeretku pada jalan dan pos itu. Ya, sekedar menyaksikan beberapa hal yg sering kita pandang sebagai kemungkinan dan Tuhan sebut sebagai kehendak. Aku perlu terus ada setidaknya untuk memastikan akhir dari cerita ini. Ya kurasa.

Dingin, gelap, dan tenang. Hal seperti ini mengingatkanku pada Gymnopedie Satie yang sempat kumainkan beberapa bar di depanmu.

Cohibaku telah padam ketika daimler memasuki sebuah jalan kecil di Mrld. Roda-roda terhenti di latar sebuah rumah kayu kecil bernomor 25B. “Welcome home, Anid!”, seru Xyn seraya membuka pintu belakang truk. Aku melompat turun. “Anxiety or fear will be worse than a precious fort. None collects maple leaves. Here are a Nat’s vinyl and Cohiba Behika. Now, just exist.” Xyn memberikan sebuah piringan hitam lama dan sebungkus cohiba utuh. Daimler tua melaju.

Kupandang sisi-sisi rumah, segalanya masih terlihat pada tempat dan rupanya; kotak pos, lampu pekarangan, daun-daun sengon dan saga, rumput jepang.

Ah, mengapa Gymnopedie terus berputar di kepalaku. Sementara angin terus bergerak bersama dingin yang bening. Sementara wajahmu menjadi hilang di antara dedaunan dan rerantingan. Sementara aku kembali duduk di sini, terus seperti ini, meraba-raba segala hal di antara ketidakpastian.

Selamat malam, selamat hari ini.

Leave a comment

XC