Hei.
Mungkinkah kita kembali bertemu. Entah pada satu kanal lagu, yang tak sengaja kuputar, dan tak sengaja kau dengar. Atau pada satu kolom komentar, yang kau tuliskan dan tak sengaja kutemukan.
Mungkinkah kita kembali bertemu. Mungkin pada satu tujuan, yang sama-sama kita tuju. Atau pada persilangan jalan yang sama-sama kita lalui. Pada malam panjang yang sama-sama kita sesali. Atau pada satu bintang yang sama-sama kita saksikan Atau cukup pada satu waktu, ketika aku mengingatmu, dan di saat yang sama kau mengingatku.
-
Cangkir kepada Kopi Kau tak terbiasa jadi dingin seperti ini Uap-uapmu, biasanya sudah menjelma jadi entah apa Dan aku tak terbiasa menunggumu jadi seperti ketika orang bilang benci berada di saat-saat begini Sementara ampas-ampasmu, biasanya sudah jadi apa yang orang bilang sisa, lalu dibuang kemana mereka kemudian lupa * Kemana perginya orang yg biasanya duduk…
-
Willy, kita harus merelakannya. Sekarang juga. Karena di sinilah pencapaian kita.
-
1 Kamu; serumit Indonesia, selebam kelopak matanya, sekoyak panji-panjinya. Tapi aku selalu puja. Kamu; sejauh cita-cita negeri ini dulu ingin merdeka, selama dan seletih kita menunggu cegaknya, kemudian sesepi kita mengingatnya. Tapi, aku selalu ingin jumpa. 2 Aku mengenalmu dari kakek. Lalu mencintaimu bersama kakek. Namun kakek telah pergi. Ke Piasa Wetan. Di bawah salah…
-
Dimana pernah kusimpan kata-kata ini. Rasanya sudah kutata sedemikian rapi. Aku terdesak di sini! Kemana kalian sembunyi?
-
Hei, hari ini. Kau akan berlalu tiga menit lagi. Menghitunglah selagi masih bisa. Lelah? Secangkir kopi? Duduklah sebentar. Kan kuputar satu atau dua keping piringan. Aku tahu, kita tak terbiasa bercakap selarut ini, tapi kau sendiri akan pulang bukan? Ups, hei kau pergi? Baiklah. Selamat jalan. … Hei, hari ini. Dua menit sudah kau menunggu?…
-
Merindukanmu seperti Chopin memetik Ballade no. 1 in G minor, op. 23. Sementara senja mulai mencapai jingga, Desember pun juga. . Sementara jangan kau simpan sebuah jika, (jika)kau akan terus menambah maka. ○○○ Selamat senja, tak perlu lupa bahagia.
-
Aku melemparmu dengan sebuah jika, itu ribuan waktu yang lalu. Sudahkah kau tersudut bersama segerombolan maka?
-
“Atau tunggulah esok di jembatan batu”. — Aku tidak terlalu terganggu oleh jeritan butir-butir air yang terjepit tumpukan batu, sampai kulihat kedatanganmu. Karena wajahmu begitu lengang. Seperti paginya ladang di sepanjang pematang. Dan aku tidaklah handal untuk memulai sebuah percakapan. “Hei, selamat pagi.”
-
Selamat pagi, Nona. Kau bisa lihat betapa panjang kita lewati malam. Sementara tiap detik yang mengalir adalah juga tiap keputusan yang lahir. Bangunlah, hirup uap-uap kopi, nikmati tetesan-tetesan sinar matahari, juga kicauan burung-burung perenjak dan kenari. Hari ini, perempuanku, jangan mencoba untuk lari lagi.
-
Kau! Remuk, remukkanlah aku. Biar urai, biar berai. Lantak, lantakkanlah aku. Biar lesap, biar lenyap.