A Journey Inward

Soliloquy No. 1

Hei, hari ini.
Kau akan berlalu tiga menit lagi. Menghitunglah selagi masih bisa.

Lelah? Secangkir kopi?

Duduklah sebentar. Kan kuputar satu atau dua keping piringan. Aku tahu, kita tak terbiasa bercakap selarut ini, tapi kau sendiri akan pulang bukan?

Ups, hei kau pergi?

Baiklah. Selamat jalan.

Hei, hari ini. Dua menit sudah kau menunggu? Kenapa tak ketuk pintu? Masuk dan duduklah.

Jadi, apakah kau ingin menemaniku, hari ini?

Baiklah. Kau bisa sedu kopi atau susu. Oh ya, ada buku baru di saku tasku, dan kau bisa rebahan di dalam kotak rokokku.

Hei, menurutmu, apa yang bakal kita temui, hari ini? Sesungguhnya aku tak mau menduga atau meminta. Dan aku tau, Tuhan masih mengirimmu sampai sejauh ini pun karena aku masih suka menduga, juga terlalu banyak meminta. Apakah Tuhan masih suka bercanda? Aku selalu rindu pada-Nya. Terlebih ketika aku mulai lebih banyak meminta.

Ah, indahnya nocturno kali ini, kau suka?

Bersahabatlah denganku, hari ini. Berjalanlah bersamaku, hari ini.

Kenapa?

Ah, tidak betul itu. Aku bukanlah pengkhianat, Kawan. Hari tadi, hari kemarin, hari kemarin lusa; merekalah yang selalu meninggalkanku. Dan aku juga bukanlah pencuri. Tak pernah sedetikpun kucuri waktu dari mereka, bahkan selalu kukembalikan waktu yang selalu banyak menyisa, utuh sesuai hitungannya. Percayalah padaku, sampai nanti kau pulang, aku akan selalu berjalan denganmu, menikmati apa yang masih bisa kita lewati, menanti apa yang masih bisa kita temui. Percayalah.

Sekarang, merebahlah dahulu, Kawan. Kau datang terlalu dini. Belum ada satupun yang akan mengucapkan selamat hari ini, mungkin esok pagi. Tidurlah. Aku juga tlah mulai lelah.

Hei, selamat hari ini.

Leave a comment

Soliloquy No. 1