A Journey Inward

Oorna: Bagian 3

Tiba-tiba Marke teriak. Pekiknya memecah hening, mengacaukan udara yang bergerak tenang. Ditatapnya langit malam yang maha luas. Dan bergeming.

Bocah itu tertegun. Matanya hampir basah. Dadanya sesak. Dan tangannya gemetar. Di kepalanya berhamburan kata-kata yang tak lengkap dan patah. Untuk sesaat ia menyadari bahwa kehidupan sesungguhnya bukan cuma miliknya. Lalu hilang. Berulang kembali. Seakan kepayahan itu cuma dimilikinya.

Di kehidupan lain, mungkin tak ada sesuatu pun yang bahkan peduli. Ironi seperti apa yang kita bayangkan pun tak ada yang mencoba membayangkan. Kecuali orang-orang bodoh seperti Marke.

Sekian waktu berlalu. Marke masih terduduk di situ; sebuah punggung batu yang tertanam separuh di sayap Bukit Vyshwv. Bukit yang sedikit menyembunyikan Telaga Oorna dari bisingnya kota. Malam baginya adalah ketika dia sibuk mengumpulkan tanda tanya. Sementara esoknya mengendap bersama turunnya angin gunung ke muka telaga. Terkadang sayup-sayup suara atau nyanyi sekelompok pendaki atau pejalan dari kejauhan hinggap sekejap di daun telinga. Lalu hilang lagi. Sementara itu, krik-krik jangkrik yang tanpa henti bukanlah sesuatu yang menarik lagi untuk direnungkan, bahkan untuk didengar. Seakan suara-suara itu telah pepat rapat pada tanah, dingin, dan angin.

Tepi adalah sebuah dunia lain, sebuah ruang lain di dalam dirinya. Namun entah kenapa ia terkurung sendiri di dalamnya. Bersama seluruh dirinya. Bagaimana mungkin jika dirinya adalah susunan beberapa ruang, tetapi dia seutuhnya terjebak hanya pada satu ruang di antaranya. Tersesat di tiap sudut atau sisinya.

Marke telah tumbuh. Dibesarkan oleh waktu dan sebagian besar pikirannya sendiri.

Leave a comment

Oorna: Bagian 3