Begini:
Aku menyukai segi empat, kubus atau balok; aku tidak memahami kerapatan zat, ilmu ukur, mesin bubut dan sejenisnya; aku juga tidak memahami tentang akurasi, presisi, cita rasa, atau sekedar cinta.
Aku tidak begitu menyukai roti; tapi merasa perlu; tidak perlu ditanya apakah tidak begitu tlah menjadi begitu.
Lalu aku ingin membangun sepotong roti, membentuk sebuah kubus roti. Keberuntungan seorang pemula. Tanpa corak, warna, atau pernak-pernik seperti yang kamu suka.
Aku betul-betul tidak handal. Setelah kuramu adonan sampai rata, kugulung jadi padu, kubentuk sebuah kubus. Namun jelas tak membentuk kubus, tapi harus. Kuiris enam sisi sekenanya, kubuang sisa-sisanya |kubuang remah-remah sisa sisinya. Terlihat lebih baik.
Namun tiba-tiba aku gelisah, apakah aku telah membuang waktu hanya untuk membuat sekubus roti. Bagaimana jika nanti kukukus, tetapi kembali tidak berbentuk kubus, sebab aku tak tahu pasti bagaimana kerapatan di setiap titik, ruang, atau sisi. Bagaimana nanti jika kutinggal pergi, apakah dia masih sepotong roti; bagaimana jika tidak lagi. Atau masih sepotong roti, tetapi aku perlu waktu kembali untuk membentuk sebuah kubus, dan membuang remah-remah sisa sisinya lagi; dan lagi.
Apakah aku tlah melakukan pekerjaan sia-sia, atau kenapa aku tidak membuat sebuah kubus pasir saja, atau batu bata saja.
Apakah kamu mau mencoba rotiku, sekalipun tidak ada rasa atau tidak ada ada. Apakah kamu mau aku menelannya kotak-kotak sampai ia tersangkut di ususku, sampai ia hilang dengan sendirinya; tidak, tidak dengan sendirinya. Jelas kamu bukanlah sebuah lubang hitam, kerapatanmu masih terbaca.
Atau begini:
Aku tidak menyukai segi empat, tetapi segala hal yang bulat; aku sedikit memahami fisika atau astrofisika; aku juga sedikit memahami statistika, dan sangat-sangat sedikit filologia.
Aku begitu menyukai roti; kau memang tak harus nanya kenapa.
Tapi aku hanya ingin menjadi sepotong roti. Dan kamu tidak harus mengerti.
Leave a comment